Loading...
Tazkiyah

Mengagungkan Perintah dan Larangan Allah

Puncak penghambaan seseorang kepada Allah adalah pasrah, cinta, tunduk, dan mengagungkan Allah. Jika seseorang mengaku menghamba kepada Allah tetapi ia tidak pasrah penuh, mencintai secara utuh, dan tunduk total kepada Allah serta tidak mengagungkan Allah, maka pengakuanya adalah pengakuan palsu.

Mengagungkan perintah dan larangan Allah merupakan bagian dari mengagungkan Allah. Allah berfirman,

“Demikianlah (perintah Allah); dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah, maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Rabb-nya.” (al-Hajj: 30)

Semula ayat ini memberitahu kita tentang posisi mengagungkan bulan-bulan haram, bahwa itu termasuk pernghormatan kita kepada Allah. Selanjutnya, penghormatan ini berlaku untuk semua yang diperintahkan dan dilarang oleh Allah. Sungguh, tersebarnya kemaksiatan dan kemungkaran di berbagai wilayah yang dihuni oleh kaum muslimin adalah karena lemahnya iman dan tidak mengagungkan (menganggap remeh) perintah dan larangan Allah.

Ibnul Qayyim menulis, “Hati dapat beristiqamah dengan dua perkara: pertama, apabila cintanya kepada Allah mendahului segala cintanya kepada selain Allah. Kedua, mengagungkan perintah dan larangan Allah yang bermula dari mengagungkan Dzat yang memerintah dan melarang.”

 

Hakikat Pengagungan

Hakikat mengagungkan perintah dan larangan Allah adalah: berhenti pada batas-batas yang ditetapkan oleh Allah dalan nash-nash syar’i, melazimi/memenuhi berbagai tuntutannya, dan memegangnya erat-erat meskipun bagai memegang bara api.

Dalam pada ini perlu dicatat bahwa perintah Rasulullah saw adalah juga perintah Allah. Allah berfirman,

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلاَ مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْراً أَن يَكُونَ لَهُمُ الخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ( الأحزاب : 36 )

“Dan tidaklah patut bagi orang yang beriman, laki-laki maupun perempuan, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.” (Al-Ahzab: 36)

 

Tanda Pengagungan

Mengagungkan perintah dan larangan Allah adalah amal hati yang niscaya akan termanifestasikan dalam aktivitas sehari-hari. Niscaya berarti jika tidak ada tanda-tanda pengagungan ini pada tampilan luar seseorang, kecil sekali kemungkinan ia mengagungkan perintah dan larangan-Nya. Pertanda seseorang mengagungkan perintah Allah adalah:

  • Memelihara waktu pelaksanaan dan batasan-batasannya.

Seseorang yang mengagungkan—bukan hanya mengindahkan—perintah shalat misalnya, sekurang-kurangnya akan menjaga agar jangan sampai ia kehilangan waktu pelaksanaan dan batasan minimal shalat yang mesti dikerjakannya. Bagaimana dikatakan mengagungkan perintah shalat, jika ia mengerjakan shalat Shubuh setelah lewat waktunya, begitu pun dengan shalat-shalatnya yang lain?

  • Memeriksa rukun-rukun, wajib-wajib, dan kesempurnaannya.

Mengagungkan perintah shalat berarti juga mengerjakannya dengan sebaik-baiknya. Mengerjakannya dengan sebaik-baiknya berarti memastikan rukun dan wajib shalat terpenuhi, dan ditambah dengan mengerjakan sunnah-sunnahnya yang menjadi penyempurna shalatnya.

  • Bersegera melaksanakannya jika sudah tiba waktunya.

Orang yang mencintai dan mengagungkan sesuatu pastilah menunggu-nunggu kedatangannya. Demikian pula halnya dengan orang yang mengagungkan perintah shalat. Beberapa menit sebelum masuknya waktu, ia pasti sudah menunggu-nunggu. Dan begitu tiba waktunya, ia akan bersegera melaksanakannya dengan sepenuh hati seutuh jiwa.

  • Bersedih apabila kehilangan/tidak dapat melaksanakannya dengan sebaik-baiknya.

Seorang yang mengagungkan perintah shalat, akan merasa amat menyesal jika tidak dapat bertakbir bersama imam, apalagi sampai kehilangan satu rekaat bersamanya. Apalagi jika sampai tidak dapat mengerjakannya dengan sempurna karena suatu keadaan.

Pertanda seseorang mengagungkan larangan Allah adalah:

  • Berusaha menjauhi faktor yang mendorong kemaksiatan.

Tidaklah disebut sebagai orang yang mengagungkan larangan berzina jika ia tidak menghindari berbagai faktor yang mendorongnya untuk melakukan dosa itu, misalnya ia tidak menundukkan pandangan atau tidak menjaga pergaulan.

  • Marah karena Allah jika ada yang melanggar larangannya dan mendapati kesedihan dalam hati jika ada yang bermaksiat kepada-Nya di bumi-Nya.

Bagaimana mungkin seseorang mengagungkan larangan berzina jika ia tidak marah dan bersedih saat mendengar atau menyaksikan banyak orang di sekitarnya yang melakukan perbuatan keji ini. Jika kecemburuan ini sudah sirna, harapan akan adanya pengagungan kepada larangan Allah pun nyaris musnah tanpa sisa.

  • Tidak selalu mengambil rukhshah sehingga menjadi pribadi yang kering.

Ketika ditanya mengapa beliau tidak mengambil rukhshah untuk mengucapkan kata-kata kufur, bahwa al-Qur`an adalah makhluk, sehingga penguasa waktu itu menghentikan penyiksaan dan intimadasi yang ditimpakan kepada beliau, imam Ahmad menjawab, “Jika semua orang mengambil rukhshah, kapan kebenaran akan berjaya?”

  • Tidak selalu melihat hikmah tasyri’ sebelum melaksanakan suatu perintah.

Salah satu perbedaan mendasar antara umat Islam hari ini dengan generasi sahabat adalah, para sahabat tidak banyak bertanya apa hikmah di balik larangan Allah dan Rasulullah saw. Apa pun yang dilarang mereka serta merta meninggalkannya. Mereka sangat mengagungkan larangan Allah.

Wallahul Muwaffiq.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Terlewatkan