Loading...
Tazkiyah

Jalan Selamat di Tengah Perpecahan Umat

Mukadimah

Rasulullah saw mengabarkan kepada kita banyak hal yang terjadi di masa lampau dan yang belum terjadi pada masa beliau. Sebagai orang yang telah berikrar untuk hanya beribadah kepada Allah dan mengikuti cara beliau dalam beribadah itu, seyogianya kita percaya kepada semua yang beliau kabarkan tentu saja, jika kabar itu sampai kepada kita lewat jalur (baca: sanad) yang dapat dipertanggungjawabkan. Shahih. Di antara yang beliau kabarkan itu adalah fenomena perpecahan umat Islam.

Ini bukan berarti kita diperintahkan untuk berpecah-belah. Kita tetap diperintahkan untuk bersatu dan berpegang teguh pada tali Allah.
“Berpegang teguhlah kalian semua pada tali Allah dan janganlah berpecah-belah.” (Ali ‘Imran: 103)

Hadits Iftiraq

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya kaum Bani Israil telah terpecah menjadi tujuh puluh dua golongan. Dan umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Semuanya (terancam) masuk neraka, kecuali satu golongan.” Lalu sahabat bertanya, “Siapakah mereka itu wahai Rasulullah?” Nabi SAW menjawab, “(Golongan itu adalah orang-orang yang berpegangan pada) yang aku dan para sahabatku berpegang-teguh padanya.” (Sunan al-Tirmidzi, 2565)

Proses iftiraq atau perpecahan umat itu tergambar dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari sahabat Hudaifah bin Yaman RA. Beliau bertutur, “Orang-orang biasa bertanya kepada Rasulullah saw tentang kebaikan. Namun, aku bertanya kepada beliau tentang keburukan karena khawatir akan menimpaku. Kutanyakan, ‘Wahai Rasulullah saw, kami dahulu berada dalam jahiliyyah dan keburukan, kemudian Allah swt datangkan kebaikan ini (Islam), lalu apakah setelah kebaikan ini ada keburukan?’ Beliau menjawab, ‘Ya.’ Kutanyakan, ‘Apakah setelah keburukan tesebut ada kebaikan lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ya, dan di masa itu ada kabut.’ Kutanyakan, ‘Apakah kabutnya?’ Beliau menjawab, ‘Kaum yang memberi petunjuk dengan selain petunjukku, kamu mengenali mereka dan mengingkarinya.’ Kutanyakan, ‘Apakah setelah kebaikan itu ada keburukan?’ Beliau menjawab, ‘Ya, para penyeru ke pintu-pintu neraka jahanam, siapa yang memenuhi seruan mereka maka mereka akan melemparkannya ke dalamnya.’ Kutanyakan, ‘Gambarkanlah (tentang mereka) kepada kami wahai Rasulullah.’ Beliau berkata, ‘Mereka adalah dari kalangan bangsa kita, berbicara dengan bahasa kita.’ Kutanyakan, ‘Lantas, apa yang engkau perintahkan kepadaku jika aku mendapati masa itu?’ Beliau menjawab, ‘Berpegang teguhlah terhadap jamaah kaum muslimin dan imam mereka.’ Kutanyakan, ‘Bagaimana jika mereka tidak lagi memiliki jamaah dan imam?’ Beliau menjawab, ‘Jauhilah kelompok-kelompok (yang menyeru kepada kesesatan) tersebut seluruhnya, sekalipun kamu harus menggigit akar pohon hingga kematian menjumpaimu sedangkan kamu dalam kondisi seperti itu!’ (HR. Bukhori)

Faktor Iftiraq

Di antara faktor perpecahan umat yang terjadi adalah sebagai berikut:

  1. Memahami al-Qur`an dan as-Sunnah tidak dengan cara yang dipesankan oleh Nabi saw. Al-Qur`an dan as-Sunnah adalah sumber hukum Islam yang telah pernah dipahami dan dipraktikkan oleh generasi terdahulu. Terbukti mereka meraih kejayaan dan kesuksesan hidup. Maka, memahami keduanya dengan cara mereka memberikan jaminan kesuksesan dan terhindar dari kesesatan. Rasulullah saw telah bersabda, “Barangsiapa menafsirkan al-Qur`an semaunya sendiri, hendaklah bersiap-siap mendapatkan tempat duduk dari api neraka.”
  2. Meninggalkan sunnah/Islam sedikit demi sedikit. Terutama jika mereka yang meninggalkannya tidak merasa bersalah. Orang yang tidak merasa bersalah tidak akan menerima perbaikan yang diberikan oleh orang lain. Orang yang mengingatkan, karena tidak ditanggapi dengan baik, biasanya akan bersikap tidak baik pula. Dari sini, bermulalah perpecahan.
  3. Mengejawantahkan kewajiban al-wala` wal bara` dengan tidak benar. Mestinya al-wala` wal-bara` diterapkan dengan landasan yang benar: kebenaran, bukan kelompok, suku, atau institusi tertentu.

Jalan Selamat

Setelah mengetahui faktor penyebabnya, kita pun dapat mengusahakan jalan selamat—dengan karunia Allah tentunya. Jalan selamat itu adalah:

  1. Bermanhaj Salaf. Menjalani hidup dengan bermanhaj salaf berarti menempuh jalan aman. Jalan menuju ridha Allah dan surga. Allah berfirman, “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya.” (At-Taubah: 100)
  2. Memahami dan mengejawantahkan Islam secara syumul (menyeluruh). Sejak dahulu setiap hamba diperintahkan oleh Allah untuk menerima ajaran Nabi mereka secara utuh. Tentang Bani Israil yang mengimani sebagian dan menerima sebagian, Allah berfirman,“Apakah kamu beriman kepada sebagian al-Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian di antara kalian, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat.” (Al-Baqarah: 85)
  3. Memahami dan menyikapi ikhtilaf dan iftiraq dengan benar. Seorang muslim mestinya bertoleransi pada perkara ikhtilaf-ijtihadi dan tidak bertoleransi dalam hal iftiraq-muttafaq ‘alaih. Namun yang banyak terjadi adalah sebaliknya.Semoga kita diselamatkan oleh Allah di zaman perpecahan ini. Wallahu al-Muwaffiq
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Terlewatkan