Loading...
Ibadah

Belajar dari Doa Musa

Salah satu bukti pengagungan kita terhadap al-Qur`an adalah mengambil berbagai pelajaran dari kisah-kisah yang dimuat di dalamnya. Allah menyebut orang-orang yang mau mengambil pelajaran itu sebagai orang-orang yang punya mata hati, ulil abshar.

Di antara surat-surat yang ada di dalam al-Qur`an, surat al-Qashash adalah surat yang memuat fragmen kehidupan Nabi Musa secara lengkap. Sejak beliau masih bayi sampai dewasa dan berhasil mengibarkan penji-panji tauhid dengan menyeberangi laut Merah dan tenggelamnya Fir’aun di sana.

Tiga Doa

Surat al-Qashash mengabadikan tiga doa yang pernah dilantunkan oleh pemuda Musa—saat itu belum menikah dan belum diangkat sebagai Nabi. Tidak mungkin seumur hidupnya, Nabi Musa hanya memanjatkan tiga doa saja. Pasti banyak sekali doa yang pernah beliau lantunkan, apatah lagi setelah beliau diangkat sebagai Nabi. Oleh karena itulah, ketiga doa yang tercatat abadi dan telah dibaca oleh jutaan umat ini pasti memiliki nilai lebih. Ketiga doa itu adalah:

 

a. Doa yang dipanjatkan oleh Musa setelah beliau tanpa sengaja membunuh seorang Kopti. Doa itu berbunyi,

رَبِّ إنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْ لي
“Wahai Rabb-ku! Sesungguhnya aku telah berbuat zhalim kepada diriku sendiri. Ampunilah aku.” (Q.S. al-Qashash: 16)

b. Doa yang dilantunkan oleh Nabi Musa seteah beliau mendengar kabar konspirasi pembunuhan yang ditujukan kepada beliau. Doa itu berbunyi,

رَبِّ نَجِّنِي مِنَ القَوْمِ الظَّالِمِينَ
“Wahai Rabb-ku! Selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim.” (Q.S. al-Qashash: 21)

c. Doa yang dibaca oleh Nabi Musa ketika beliau sedang kelelahan dan kelaparan di negeri Madyan.

رَبِّ إنِّي لِمَا أَنزَلْتَ إلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ
“Wahai Rabb-ku! Sesungguhnya aku teramat butuh kepada turunnya kebaikan-Mu kepadaku.” (Q.S. al-Qashash: 24)

Fiqh Doa Musa

Dalam ketiga doa di atas, Musa memulai doa-doanya dengan lafal “Rabbi” yang bermakna “Wahai Rabb-ku!”. Kata ini menunjukkan bahwa meski di usia yang masih belia, keimanan Musa telah mencapai derajat yang tinggi. Nyaris sempurna. Demikian pula halnya dengan tauhidnya. Tauhid yang murni. Pun dengan pemahamannya akan segala kekuatan untuk berbuat baik dan daya tahan dari melanggar yang dilarang dan diharamkan oleh Allah. Semua itu tidak pernah terwujud tanpa bantuan Allah.

 

Saat memanjatkan doa, “Wahai Rabb-ku! Sesungguhnya aku telah berbuat zhalim kepada diriku sendiri. Ampunilah aku!” Musa memahami dan bermakrifah bahwa hanya Allah yang dapat mengampuni dosa yang telah diperbuatnya; Dia al-Ghafur dan al-Ghaffar.

 

Saat melantunkan doa, “Wahai Rabb-ku! Selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim.” Musa memahami dan bermakrifah bahwa hanya Allah yang dapat menyelamatkannya dari kejaran musuh. Bersembunyi di mana pun, jika Allah tidak menyelamatkannya, dia pasti tertangkap. Dengan cara-Nya Allah akan melindungi dan menyelamatkan hamba-Nya.

 

Dan saat mengadu, “Wahai Rabb-ku! Sesungguhnya aku teramat butuh kepada turunnya kebaikan-Mu kepadaku.” Musa tahu dan mengerti bahwa hanya Allah yang dapat memberi rizki yang baik. Musa bermakrifah bahwa Allah adalah ar-Razzaq.

 

Seiring dengan setiap doa yang dipanjatkannya, Musa senantiasa mengiringinya dengan pengharapan agar doa-doanya itu dikabulkan. Dan doa-doa Musa memang terkabul. Terkabulnya doa yang sejalan dengan dengan hikmah dan ilmu Allah. Dia Maha Mengetahui segala hakikat dan akhir setiap peristiwa. Allah mengabulkan permohonan seorang hamba, jika di sana ada kebaikan dunia akhirat seorang hamba. Dan begitu pula dengan doa Musa as. Allah mengabulkannya seiring dengan hikmah-Nya.

Setelah doanya yang pertama, Allah menyatakan
فَغَفَرَ لَهُ إنَّهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Maka (Allah) mengampuninya. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. al-Qashash: 16)

 

Setelah doanya yang kedua, Musa melangkahkan kaki untuk berusaha mencari keselamatan. Berusaha setelah berdoa. Ibnu ‘Athiyah menyatakan, Musa berjalan tanpa teman tanpa arah yang pasti. Dia hanya berbekal kepercayaannya kepada Allah. Dia hanya berucap,

عَسَى رَبِّي أَن يَهْدِيَنِي سَوَاءَ السَّبِيلِ
“Semoga saja Rabb-ku membimbingku jalan yang benar.” (Q.S. al-Qashash: 22)

Akhirnya sampailah Musa ke negeri Madyan. Negeri yang berada di luar wilayah kekuasaan Fir’aun. Itulah sebabnya orang tua dua gadis yang ditolongnya berkata,

لا تَخَفْ نَجَوْتَ مِنَ القَوْمِ الظَّالِمِينَ
“Jangan khawatir, kamu sudah selamat dari kaum yang zhalim itu.” (Q.S. al-Qashash: 25)

Doa keselamatan yang dipanjatkan Musa telah dikabulkan.
Doa yang ketiga pun dikabulkan oleh Allah. Allah mengabarkan,
فَجَاءَتْهُ إحْدَاهُمَا تَمْشِي عَلَى اسْتِحْيَاءٍ قَالَتْ إنَّ أَبِي يَدْعُوكَ لِيَجْزِيَكَ أَجْرَ مَا سَقَيْتَ لَنَا

“Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan malu-malu, ia berkata, ‘Sesungguhnya ayahku memanggil kamu agar ia memberikan balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami’.” (Q.S. al-Qashash: 25)

 

Maka Musa yang dalam keadaan letih dan lapar mendapatkan semua kebaikan rizki dari Allah. Bermula dari jamuan tamu, kemudian dinikahkan dengan perempuan yang berakal, suci, dan menjaga kehormatannya, dan akhirnya mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan jiwanya yang merdeka, senang bertafakkur, dan memperhatikan alam raya.
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Terlewatkan