Loading...
Akidah

Allah Yang Pertama dan Yang Terakhir

Syarah Sullamul Wushul Seri 03

oleh: Abu Zufar Mujtaba

 

الأوَّلُ الْمُبدِي بِلاَ ابْتِدَاءِ والآخِرُ الْبَاقِي بِلاَ انْتِهَاءِ

(Allah adalah) al-Awwal, al-Mubdi tanpa permulaan… Al-Akhir, al-Baqi tanpa berakhir

 

Pada edisi yang lalu, kita telah dikenalkan oleh Syaikh Hafizh Ahmad al-Hakami tentang nama-nama Allah yang maknanya berdekatan, seputar penciptaan. Kita sudah dikenalkan dengan nama al-Khaliq, al-Bari, dan al-Mushawwir. Pada nazham berikutnya ini, kita dikenalkan dengan nama-nama Allah yang secara makna menunjukkan keazalian dan keabadian Allah. Nama itu adalah al-Awwal dan al-Akhir.

 

Al-Awwal dan al-Akhir

Al-Awwal berarti yang tidak didahului oleh apapun, sedangkan al-Akhir berarti yang terakhir, yang tidak ada sesuatu pun setelahnya. Allah memang sudah ada sejak zaman azali dan akan ada abadi selamanya. Allah tidak akan tiada dan tidak akan binasa. Sementara yang lain hanyalah makhluk dan hamba-Nya. Allah menciptakan mereka dari tiada, dan mereka pun mengalami rusak-binasa.

هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ (الحديد:3)

“Dialah al-Awwal (Yang Pertama), al-Akhir (Yang Terakhir), azh-Zhahir (Yang paling Tampak), al-Bathin (Yang paling Tersembunyi) dan Dia Mahatahu atas segala sesuatu.” (QS. Al-Hadid: 4)

Al-Khaththabi berkata, “Al-Awwal berarti yang mendahului segala sesuatu, yang ada dan sudah ada sebelum adanya makhluk. Karena keberadaan-Nya itu Dia berhak menyandang predikat pertama yang tidak didahului atau dibarengi oleh apapun. Sedangkan al-Akhir berarti yang tersisa setelah kebinasaan semua makhluk. Makna al-Akhir bukan berarti sesuatu yang punya titik akhir, seperti halnya makna al-Awwal yang bukan berarti sesuatu yang punya titik permulaan.” (Sya`nud Dunya, 87)

Sedangkan menurut al-Bayhaqi, “Al-Awwal berarti yang keberadaannya tidak ada permulaannya. Sedangkan al-Akhir berarti yang keberadaannya tidak ada akhirnya.” (Al-Iqtida`: 63)

Menurut az-Zajjaj, “Allah adalah yang awal, karena memang Dia ada sebelum segala sesuatu. Allah adalah yang awal, karena tidak didahului oleh apapun. Dan Allah adalah yang terakhir, karena hanya Dia yang tersisa saat segalanya telah binasa.” (Isytiqaqu Asma`illaahil Husna, 355)

Menurut Ibnu Jarir ath-Thabari, “Dia adalah yang awal sebelum segala sesuatu, sebelum tanpa permulaan; dan yang terakhir setelah binasanya segala sesuatu, terakhir dengan tanpa penghujung. Mengapa demikian? Karena Dia sudah ada sebelumnya, tidak ada sesuatu pun yang lain, dan tetap ada setelah kebinasaan segala sesuatu. Dia berfirman, ‘Tiap-tiap sesuatu pasti binasa kecuali Allah.’ (QS. Al-Qashash: 88)” (Tafsir ath-Thabariy, 27/215)

 

Al-Mubdi`

Al-Mubdi` berasal dari kata abda`a yang berarti memulai. Al-Mubdi` berarti Yang Memulai. Syaikh Hafizh memaksudkan al-Mubdi` di sini adalah yang memulai penciptaan seluruh makhluk dan kemudian mengembalikannya. Beliau menyatakan hal itu dengan bersandar pada:

Katakanlah, “Apakah di antara sekutu-sekutumu ada yang dapat memulai penciptaan makhluk, kemudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali?” Katakanlah, “Allah-lah yang memulai penciptaan makhluk, kemudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali; maka bagaimanakah kamu dipalingkan (kepada menyembah yang selain Allah)?” (QS. Yunus: 34)

Dan apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian mengulanginya (kembali). Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. Katakanlah, “Berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi.” Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. al-’Ankabut: 19-20)

 

Penciptaan Alam

Dalam al-Quran, Allah memberikan keterangan tentang proses penciptaan alam semesta secara global dan memerinci pada beberapa bagiannya. Bagi seorang muslim, mencukupkan diri dengan keterangan dari Allah, baik yang global maupun yang rinci, tanpa menggali yang lebih rinci sudah cukup.

Allah berfirman, “Aku tidak menghadirkan mereka untuk menyaksikan penciptaan langit dan bumi dan tidak (pula) penciptaan diri mereka sendiri (QS. al-Kahfi: 51)

Secara global Allah menegaskan bahwa Dia menciptakan langit dan bumi selama 6 hari. Allah tegaskan hal ini di 7 ayat dalam al-Quran. Di antaranya,

“Sesugguhnya Rabb kalian, yaitu Allah, Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam 6 hari, kemudian Dia beristiwa` di atas Arsy.” (QS. al-A’raf: 54).

“Sungguh Aku telah menciptakan langit dan bumi serta segala yang ada di antara keduanya dalam 6 hari, dan Aku tidak merasa capek.” (QS. Qaf: 38).

Keterangan lainnya Allah sebutkan di surat Yunus: 3, Hud: 7, al-Furqan: 59, as-Sajdah: 4, dan al-Hadid: 4.

Secara rinci, Allah juga memberikan penjelasan. Dia berfirman,

“Katakanlah, ‘Sungguh, patutkah kamu kafir kepada yang menciptakan bumi dalam dua hari dan kamu adakan sekutu-sekutu bagi-Nya? (Yang bersifat) demikian itu adalah Rabb semesta alam. Dan dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan penghuninya dalam empat hari. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya. Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi, ‘Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa.’ Keduanya menjawab, ‘Kami datang dengan suka hati.’ Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua hari. Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya.’ Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” (QS. Fushilat:9-12).

Karena itulah ulama berbeda pendapat dalam memahami kata ‘hari’ terkait proses penciptaan alam semesta. Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wan Nihayah menyebutkan perbedaan pendapat ulama tentang makna ‘hari’ dalam ayat di atas. Beliau menyatakan ada dua pendapat ulama tentang makna kata ‘hari’ terkait penciptaan langit dan bumi.

Pendapat Pertama, maknanya sebagaimana makna hari yang dikenal manusia, dimulai sejak terbit matahari hingga terbenamnya matahari. Pendapat Kedua, bahwa satu hari dalam proses penciptaan alam semesta itu seperti 1000 tahun dalam perhitungan manusia. Ini merupakan pendapat yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, Mujahid, adh-Dhahak, Ka’ab al-Ahbar, dan pendapat yang dipilih oleh Imam Ahmad sebagaimana keterangan beliau dalam ar-Radd ‘ala al-Jahmiyah. Pendapat ini pula yang dinilai kuat oleh Ibnu Jarir at-Thabari. (al-Bidayah wa an-Nihayah, 1/15).

Di antara ulama yang berpendapat bahwa satu hari sama dengan seribu tahun adalah al-Qurthubi. Beliau mengatakan dalam tafsirnya, “Dalam waktu 6 hari, maksudnya adalah hari di akhirat, bahwa satu hari sama dengan 1000 tahun, karena besarnya penciptaan langit dan bumi.” (Tafsir al-Qurthubi, 7/219)

Al-Baqi

Al-Baqi berarti yang abadi dan tidak pernah tersentuh kerusakan, kematian, kehancuran, dan kebinasaan. Berbeda dengan makhluk-makhluk-Nya yang semua mengalami salah satu dari kerusakan, kematian, kehancuran, dan kebinasaan.

“Janganlah kamu seru di samping (menyembah) Allah, ilah apapun yang lain. Tidak ada ilah (yang berhak diibadahi) melainkan Dia. Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. Bagi-Nya-lah segala penentuan, dan hanya kepada-Nya-lah kamu dikembalikan. (QS. Al-Qashash: 88)

Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal wajah Rabb-mu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. (QS. Ar-Rahman: 26-27).

Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Terlewatkan