Loading...
Akidah

Al-Ahad Yang Maha Esa

Syarah Sullamul Wushul Seri 04

oleh: Abu Zufar Mujtaba

الأحَدُ الفَرْدُ الْقَدِيرُ الأزَليّ الصَّمَدُ الْبَرُّ الْمُهَيْمِنُ العَلِيّ

(Allah adalah) al-Ahad, al-Fard, al-Qadir, ash-Shamad, al-Barr, al-Muhaimin, dan al-‘Ali.

 

Nazham yang kita bahas pada edisi ini masih berkenaan dengan nama-nama Allah, al-Asma`ul Husna. Ada 8 nama yang dibahas pada nazham kali ini. Kedelapan nama itu adalah al-Ahad (Yang Esa), al-Fard (Yang Tunggal), al-Qadir (Mahakuasa), ash-Shamad (Yang segala sesuatu bergantung pada-Nya), al-Barr (yang Mahabaik), al-Muhaimin (Yang Memelihara), dan al-‘Ali (Yang Maha Tinggi). Insya Allah kita akan memakrifahinya satu demi satu.

 

Al-Ahad

Nama al-Ahad atau dalam Bahasa Indonesia diterjemahkan dengan Yang Maha Esa termasuk nama Allah yang paling sering kita sebut dan kita kenal sejak kanak-kanak. Tidak ada anak SD yang mendapatkan tarbiyah Islam yang baik yang tidak hapal surat al-Ikhlash. Nama al-Ahad disebut oleh Allah dalam surat al-Ikhlash ayat yang pertama.

“Katakanlah (hai Muhamad), ‘Dialah Allah al-Ahad (Yang Maha Esa).’.” (QS. Al-Ikhlash: 1)

Dan tidak ada penyebutan di surat yang lain.

Selain nama al-Ahad, ada nama Allah lain yang maknanya berdekatan dengan nama al-Ahad ini. Yakni nama al-Wahid yang berarti Yang Satu. Jika al-Ahad disebut hanya pada satu ayat al-Quran, al-Wahid disebut pada lebih dari 15 ayat al-Quran yang mengabarkan nama dan sifat Allah. Yaitu:

“Hai kedua penghuni penjara, manakah yang lebih baik, tuhan-tuhan yang disembah bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Satu lagi Maha Perkasa?” (QS. Yusuf: 39)

“Katakanlah, ‘Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia-lah Yang Satu lagi Maha Perkasa.’.” (QS. Ar-Ra’du: 16)

“Dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) berkumpul menghadap ke hadirat Allah Yang Satu lagi Maha Perkasa.” (QS. Ibrahim: 48)

“Dan sekali-kali tidak ada yang berhak disembah selain Allah Yang Satu dan Maha Mengalahkan.” (QS. Shad: 65)

“Maha Suci Allah. Dia-lah Allah Yang Satu lagi Maha Mengalahkan.” (QS. Az-Zumar: 4)

“(Lalu Allah berfirman), ‘Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini?’ Kepunyaan Allah Yang Satu lagi Maha Mengalahkan.” (QS. Al-Mukmin: 16)

“Dan ilah kalian adalah Ilah yang satu; tidak ada yang berhak diibadahi selain Dia, yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 163)

“Sesungguhnya ilahmu adalah Satu, Rabbnya langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya dan Rabbnya tempat-tempat terbit matahari.” (Ash-Shaffat: 4-5)

 

Makna al-Ahad dan al-Wahid

Dua nama Allah: al-Ahad dan al-Wahid sama-sama menunjukkan ke-Esaan-Nya. Maksudnya hanya Allah sajalah yang memiliki sifat mulia, agung , besar dan bagus. Tidak ada yang mirip dengan-Nya dan tidak ada yang menyerupai sifat-Nya. Tidak ada sekutu dan pembantu dalam perbuatan-perbuatan-Nya. Allah satu-satunya ilah yang berhak untuk diibadahi, tidak boleh dipersekutukan dalam hal cinta dan pengagungan. Sikap merendahkan diri dan tunduk hanya kepada-Nya saja. Dialah Allah, Dzat yang agung sifat-Nya, sehingga hanya Dia yang layak untuk menyandang segala kesempurnaan. Tidak ada satu makhluk pun yang mengetahui sifat Allah atau sebagian dari sifat-Nya dengan sempurna. Maka, tak mungkin seseorang akan dapat menyerupai sebagian dari sifat-Nya.

Kewajiban setiap hamba yang mengetahui semua itu adalah mentauhidkan Allah, baik dengan keyakinan, perkataan maupun perbuatan. Hendaknya mengakui pula keutamaan dan ke-Esaan Allah yang mutlak serta mentauhidkan-Nya dalam semua bentuk peribadatan.

Allah Maha Tunggal dalam Rububiyyah-Nya, sehingga tiada sekutu bagi-Nya dalam kerajaan-Nya, tidak ada yang dapat melawan dan mengalahkan-Nya. Dia Maha Tunggal dalam Dzat, nama, dan sifat-sifat-Nya. Tidak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya. Dia Maha Tunggal dalam Uluhiyah-Nya sehingga tiada sesuatu pun yang berhak diibadahi kecuali Dia, dan tidak ada yang berhak mendapatkan ibadah kecuali Dia.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata, “Al-Ahad yakni yang menyendiri dengan segala kesempurnaan, keagungan, kebesaran, keindahan, pujian, hikmah, rahmat dan selainnya dari sifat-sifat kesempurnaan. Sehingga tidak ada yang menyerupai dan menyamai-Nya dalam satu sisi pun dari sisi-sisi yang ada. Maka Dia Yang Maha Tunggal dalam kehidupan-Nya, sifat qayyumiyah-Nya, ilmu-Nya, kekuatan-Nya, kebesaran-nya, keindahan-Nya, pujian terhadap-Nya, hikmah-Nya, rahmah-Nya, dan sifat-sifat lain. Dia memiliki sifat-sifat itu pada puncak kesempurnaan.”

Al-Baihaqi berkata, “Al-Wahid artinya Yang Maha Tunggal atau Esa, yang tetap menyendiri dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Dikatakan pula artinya yang tidak terbagi dalam Dzat-Nya, tidak ada yang menyerupainya dan tiada sekutu bagi-Nya. Dan ini merupakan sifat yang dengan Dzat-Nya Allah berhak memilikinya.”

 

Hikmah Penetapan Dua Nama

Dengan mengakui dan menetapkan dua nama Allah: al-Ahad dan al-Wahid, maka kita telah meyakini beberapa hal penting berikut:

  1. Bahwa tidak ada yang menyamai dan menandingi Allah, serta tidak ada yang setara dengan-Nya dalam segala segi. Allah Maha Suci dan Maha Tinggi, tidak ada yang menyamai-Nya dan tidak ada pula yang manandingi-Nya.

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11)

  1. Batilnya pemahaman takyif yaitu, usaha seseorang dengan akalnya yang lemah untuk mengetahui bagaimana sifat-sifat Allah. Usaha semacam itu tidak mungkin bisa terwujud. Sebab Allah adalah satu-satu-Nya yang memiliki sifat sempurna, agung dan mulia, maka tidak ada satu dzat pun yang bisa menjadi serikat-Nya, tidak ada yang dapat menyerupai-Nya.
  2. Penetapan seluruh sifat Allah yang sempurna, tidak ada satu sifat yang menunjukkan kemuliaan dan keindahan melainkan sifat tersebut telah dimiliki Allah.
  3. Bahwa semua sifat yang Allah miliki merupakan sifat-sifat paling agung yang berada pada puncak keagungan. Allah berfirman, “Dan bahwasanya kepada Rabbmulah puncak (segala sesuatu).” (QS. An-Najm: 42)
  4. Allah Mahasuci dari segala kekurangan dan aib. Karena kekurangan dan aib merupakan sifat para makhluk, sementara Allah adalah Dzat yang memiliki sifat sempurna, agung dan mulia tanpa ada satu makhluk pun yang semisal dengan-Nya.
  5. Wajibnya berikrar (menyatakan) bahwa Allah memiliki kesempurnaan sifat yang mutlak, baik dalam Dzat, sifat-sifat maupun perbuatan-perbuatan-Nya. Dan keyakinan itu hendaknya tertanam dalam hati.
  6. Wajibnya meng-Esakan Allah dan ikhlas dalam beribadah, serta meyakini bahwa Allah satu-satunya Pencipta dan Pemberi rizki yang dapat memberi maupun menahannya, dapat merendahkan serta mengangkat derajat hamba-Nya, dan dapat menghidupkan serta mematikan. Oleh karena itu wajib meng-Esakan Allah dalam semua sisi peribadatan.
  7. Ini merupakan bantahan terhadap orang-orang musyrik dan semua aliran sesat yang sama sekali tidak menghormati dan mengagungkan Allah dengan penghormatan dan pengagungan yang semestinya. Mereka yang tidak mengakui ke-Esaan, sehingga mereka membuat sekutu-sekutu bagi Allah, membuat perumpamaan-perumpamaan bagi Allah, berburuk sangka kepada Allah, mencela serta meremehkan Rububiyah Allah dan melakukan pelanggaran terhadap tujuan diciptakannya manusia; yaitu mentauhidkan (mengesakan) Allah, tunduk dan patuh dengan melaksanakan semua peribadatan kepada Allah.

 

Al-Fard

Nama al-Fardu yang berarti Yang Maha Tunggal disebut oleh al-Qurthubi dalam al-Asna fi Syarhi Asma`illahi al-Husna, hal 138-141. Dasarnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh al-Bayhaqiy yang beliau muat dalam kitab al-Asma` wash Shifat, halaman 116. Hanya, hadits tersebut tidak shahih.

Lantaran penetapan nama dan sifat Allah bersifat tauqifiy, maka lebih baik kita tidak memasukkan al-Fardu ke dalam nama-nama Allah. [Bersambung, insya Allah]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Terlewatkan